Tulisan ini sekedar pendapat saya pribadi :
Pada dua posting terakhir saya (Blue energy dan Hydrofuel), keduanya mambahas mengenai bahan bakar berbasis air yang dengan segala keunggulannya (seperti ketersediaan bahan baku, polusi yang dihasilkan, dll) seharusnya sangat berpotensi untuk dapat menggantikan pemakaian bahan bakar fosil /BBM. Dari comment yang masuk juga banyak yang mempertanyakan perkembangan dari teknologi pembuatan bahan bakar berbasis air ini.
Sebelum saya menyampaikan pendapat saya mengenai hal ini, saya akan mengajak anda untuk berandai-andai untuk sekedar memberikan gambaran mengenai fenomena bahan bakar berbasis air ini :
Misalkan teknologi pembuatan bahan bakar berbasis air ini telah sempurna (artinya telah selesai diujikan di skala lab dan siap untuk diproduksi masal) kemudian ada pihak yang tertarik dan memproduksinya secara massal, maka jadilah bahan bakar ini pengganti BBM. Karena dengan ketersediaan bahan baku yang melimpah (air laut) maka kemungkinan besar harga yang ditawarkan akan lebih murah ditambah lagi dengan tingkat polusi yang lebih rendah, maka jadilah ia pengganti BBM yang ideal dengan berbagai varian yang disediakan (tersedia untuk mesin bensin, diesel juga untuk pesawat). Andaikan hal itu terjadi mari kita andaikan semua mesin (mobil, motor, pesawat, industri) yang ada didunia mengganti BBM dengan bahan bakar berbasis air ini.
Untuk skala nasional mari kita bayangkan apa yang akan terjadi dengan pertamina jika bahan bakar berbasis air ini diproduksi massal ?, Pertamina adalah penyumbang terbesar APBN, apa yang terjadi pada bangsa ini jika ternyata BUMN andalan ini tidak lagi memberikan income pada negara? berapa pendapatan yang hilang akibat penemuan bahan bakar berbasis air ini?? berapa kerugian akibat modal / investasi yang dikeluarkan untuk eksplorasi dan eksploitasi sumur minyak yang untuk kemudian diabaikan karena ada teknologi yang lebih murah?
Untuk skala internasional mari kita bayangkan berapa kerugian perusahaan besar seperti shell, mobil oil, chevron, dll untuk modal investasi eksplorasi dan eksploitasi yang untuk kemudian juga diabaikan??, berapa juta tenaga kerja yang akan kehilangan pekerjaan?? . Industri minyak telah menjadi mahal belakangan ini karena semakin terbatasnya persediaan minyak yang ada, namun dibalik itu juga menjanjikan keuntungan berlipat bagi mereka yang memiliki sumber energi ini, negara - negara timur tengah contohnya, mereka menjadi negara yang kaya karena memiliki sumber minyak yang luar biasa besar. Jika teknologi bahan bakar air ini akan diproduksi masal, bisakah anda bayangkan berapa keuntungan yang akan hilang dari industri minyak?? suatu jumlah keuntungan yang luar biasa besar akan hilang, untuk negara timur tengah yang hanya mengandalkan minyak (karena kondisi geografis mereka sebagian besar berupa gurun pasir) bisakah anda bayangkan akan seperti apa kondisi negara timur tengah jika industri minyak dunia beralih ke bahan bakar berbasis air?? tentunya mereka akan melakukan ‘apapun’ untuk mencegah kehilangan pendapatan ini.
Dan diakhir pengandai-andaian ini, mari kita membayangkan : jika kita (atau misalkan saya) memiliki teknologi pembuatan bahan bakar berbasis air ini, apa yang akan dilakukan perusahaan-perusahaan besar /negara-negara minyak untuk mencegah teknologi ini berkembang dan diketahui masyarakat dunia??. Atau mungkin lebih tepatnya : berapa jumlah uang yang akan mereka tawarkan untuk membeli teknologi ini, untuk kemudian disimpan rapat2 dari dunia internasional demi untuk melanjutkan bisnis jual beli minyak yang membuat mereka hidup berkecukupan selama ini?? pastinya akan keluar suatu jumlah uang yang luar biasa besarnya untuk membeli teknologi ini, suatu jumlah yang diluar perhitungan nalar saya tentunya
Yang ingin saya sampaikan secara garis besarnya adalah : Jika memang teknologi bahan bakar berbasis air ini sudah bisa dan siap diproduksi masal, akan ada kemungkinan2 yang menyebabkan penyebaran teknologi ini menjadi terhambat. Entah pemerintah yang melarang, karena kemungkinan kehilangan pendapatan untuk APBN dari sektor minyak sangat besar, bagaimana nanti operasional negara ini kalau APBN sangat minim?? atau jika kita berpikir lebih jauh lagi mungkin ada tekanan dari negara2 (atau mungkin PBB??!!??) dan perusahaan minyak agar teknologi ini tidak diproduksi secara masal karena pertimbangan yang sama dengan indonesia : kehilangan pendapatan dari sektor minyak yang akan merubah peta perekonomian dunia secara global. Kenapa saya bisa berpikir seperti ini ??, karena pada saat konfrensi dunia mengenai global warming di Bali beberapa waktu lalu, saat didemonstrasikan teknologi blue energy (bahan bakar berbasis air), yang seharusnya menjadi penemuan dan sumbangan yang ‘luar biasa’ bagi dunia, ternyata ditanggapi ‘dingin’ oleh masyarakat internasional (negara maju dan negara minyak lebih tepatnya) bahkan terkesan ditutup-tutupi dan dijaga agar penemuan ini tidk diketahui masyarakat internasional.
Kok sepertinya mirip skenario film ya??
sekali lagi ini hanya berandai-andai, mungkin ada alasan lain kenapa teknologi ini belum berkembang, mungkin masih ada kelemahan pada teknologi ini, sehingga masih dilakukan uji coba pada skala lab yang pada akhirnya nanti akan dikembangkan untuk produksi masal. Atau mungkin ada alasan lain yang tidak terpikirkan oleh saya, atau mungkin anda punya pendapat lain??

JANUTAMA said,
February 24, 2008 @ 6:14 am
Saya sangat mendukung gagasan atau andai 2 anda.
indonesia membutuhkan orang2 seperti anda
banyak kesuksesan di capai seseorang dari sebuah andai2 atou hal dianggap bodoh atau gila sekalipun ole kebanyakan orang
Honda co udh membuat ….INDONESIA Tenaga obat nyamuk kali …
Sukses buat anda
Kalo ada info terbaru kabari ya terutama tentang tehnologi alternatif kali aja bisa dikembangkan di kota saya UNGARAN
DIMPA UMM said,
March 10, 2008 @ 8:10 pm
BAGI ANDA YANG PUNYA TEMUAN TENTANG TEKNOLOGI RAMAH LINGKUNGAN TERUTAMA ALTERNATIF BAHAN BAKAR KAMI UNDANG DALAM PAMERAN DAN SEMILOKA TEKNOLOGI RAMAH LINGKUNGAN UNTUK MEMPERINGATI HARI BUMI YANG AKAN KAMI ADAKAN PADA :
TANGGAL : 20 - 22 APRIL 2008
TEMPAT : KAMPUS III UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
ACARA : 1) PAMERAN TEKNOLOGI RAMAH LINGKUNGAN, 2) SEMILOKA TEKNOLOGI RAMAH LNGKUNGAN, 3) TALK SHOW KIKC ANDY
UNTUK INFORMASI LEBIH LANJUT HUBUNGI:
Sekretariat DIMPA (Divisi Mahasiswa Pencinta Alam) Universitas Muhammadiyah Malang, JL. Raya Tlogomas 246 MALANG. telp (0341) 464318 ext 146, fax (0341) 464320.
C.P : ZAINAL AFANDI (08125290570)
email : dimpakoeumm@yahoo.com
Ghofur said,
March 16, 2008 @ 9:14 am
Saya pikir demikian:
Seharusnya perusahan energi (d/h oil & gas company) sudah memulai / inisiatif menembangkan produk ini secara komersial. Tentu dengan scope tertentu. Khususnya PERTAMINA.
Sebab sewaktu krisis BBM tempo hari dipicu oleh defisit migas. Dimana volume & nilai impor migas lebih besar dengan volume & nilai ekspor kita (walau harga & kualitasnya lebih baik daripada luar negeri). Kita impor minyak untuk kebutuhan konsumsi dalam negeri (bensin, solar, minyak tanah) sedang ekspor untuk menambah devisa.
Nah untuk menekan konsumsi minyak impor lewat cara men-substitusi-nya dengan bahan bakar alternatif. Jadi tidak menjadi beban APBN donk? Apalagi untuk subsidi premium & solar.
Kalau cerdik, ini peluang bisnis PERTAMINA. Daripada memaksa masyarakat mengkonversi bahan bakar lebih baik mensubstitusi bahan bakar yang lebih murah.
Andai untuk produksi massal terganjal modal, bisa saja menggunakan modal masyarakat untuk memproduksinya. Dengan cara men-support masyarakat yang mampu untuk membangun unit-unit produksi, dimana hasilnya disalurkan melalui PERTAMINA
Pendapat pribadi: sebenarnya ini peluang khususnya di Indonesia yang terbelit krisis. Amerika sendiri saya lihat sudah banyak yang secara profesional & komersial bahan bakar alternatif ini dijual ke masyarkatnya. Kenapa kita tidak?
Djunaedi tarmin said,
March 26, 2008 @ 5:35 am
Kita jangan pesimis dulu lah,
ada banyak orang2 pintar yang berakhlak mulia di negri kita ini,
tapi saya juga dukung pendapat anda, karena kita juga sudah masuk dunia perdaganagan bebas.
Hadi Prasetyo said,
April 28, 2008 @ 4:32 am
Setuju sama penulis, butuh keberanian ekstra utk memassalkan teknology blue energy ini…. Pastinya akan ada byk tentangan dr berbagai pihak yg merasa bisnisnya terancam dgn teknology ini…
Encik_akhmad said,
May 24, 2008 @ 5:08 am
anda seorang ilmuwan nampaknya, sebab tipikal ilmuwan selalu berandai2 dan skeptis, berbeda dengan seorang praktisi yang “berpikir sambil berjalan”.
Saya akan mendukung gagasan hydrofuel/blue energy bila ternyata nanti lebih murah, lebih bersih, lebih berwawasan lingkungan, dan yang terpenting lebih terakses, sebab “jumlah orang Indonesia yang membutuhkannya” jauh lebih besar dari karyawan oil/gas company yang umumnya udah lebih mampu.
Sesungguhnya bagi Pertamina, tentunya ini menjadi lahannya juga, sebab perusahaan sekaliber Pertamina lah yang dapat memberi akses teknologi, dan mungkin juga pembiayaan.
Bagi para pemikir/penemu, mudah-mudahan Allah memberikan anda petunjuk serta kemudahan untuk menyelesaikan studi dan merampungkannya. Amin.
adi said,
May 31, 2008 @ 6:10 am
blue energi menjadi polemik belakangan ini, seperti termuat dibeberapa surat kabar nasional yang pada intinya teknologi ini adalah bohong. yang jadi pertanyaan saya apakah benar teknologi ini bohong?