Hydrofuel, bahan bakar berbasis air

Ini ada tulisan dari milis IndoEnergy, sekali lagi mengenai bahan bakar berbasis air setelah sebelumnya ada blue energy.

RADAR JOGJA
Senin, 18 Feb 2008

Minggu, 17 Feb 2008
Dra Nike Triwahyuningsih dan Penelitian Hydrofuel Banyugeni

Inspirasi Ayat Quran, Laut yang Berapi
Lima peneliti dari kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)
menghadirkan temuan yang bisa menjadi embrio untuk mengatasi
kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Sebuah hasil penelitian yang
mereka lakukan selama lima tahun mereka sampaikan ke hadapan publik,
Kamis (14/2) lalu. Mereka menyebutnya bahan bakar dari air atau
hydrofuel. Atau dalam bahasa lokal mereka mematenkannya dengan nama
Banyugeni.

Kelima peneliti UMY itu adalah Drs Purwanto, Ir Bledug Kusuma
Prasadja MT, Ir Tony K Haryadi MT, Ir Lilik Utari MS, dan Dra Nike
Triwahyuningsih MP. Bagaimana Banyugeni ini ditemukan, apa saja
kemungkinan- kemungkinan yang bisa dilakukan ke depan, wartawan Radar
Jogja Laila Rochmatin berkesempatan mewancarai salah satu dari lima
peneliti. Berikut hasil wawancara dengan Dra Nike Triwahyuningsih
didampingi ketiga peneliti lain.

Sebelumnya saya mengucapkan selamat atas pretasi yang diraih. Bisa
diceritakan sehingga muncul ide untuk meneliti air sebagai bahan baku
bahan bakar?
Terimakasih. Ini semua berkat kerjasama dan kesolidan tim peneliti di
Pusat Studi Pengembangan Energi Regional (PUSPER) UMY. Di lembaga
tersebut kami selalu melakukan penelitian dengan berbagai objek.
Terkait dengan ide menjadikan air sebagai bahan baku pembuatan bahan
bakar merupakan salah satu bentuk amalan terhadap ayat suci Alquran.
Seperti disebutkan dalam surat At Thur ayat 6 yang
berbunyi “Perhatikan laut yang berapi dan Surat Al Anbiya ayat
30 “…..dan kami jadikan dari air segala sesuatu hidup, dan surat At
Takwir ayat 6 “Dan apabila laut dipanaskan.” Dari ayat Alquran-lah
kami terinspirasi untuk meneliti air sebagai bahan baku pembuatan
bahan bakar. Dan tentunya ditambahi ilmu pengetahuan alam yang kami
miliki sebagai landasan berpikir secara kimiawi.

Apa awalnya ada kegelisahan tentang ancaman krisis bahan bakar di
dunia?
Itu sudah pasti. Kita semua tahu kalau saat ini seluruh masyarakat
dunia dihadapkan pada kenyataan semakin menipisnya bahan bakar dari
minyak bumi. Bagaimananpun bahan bakar dari fosil lama-kelamaan akan
habis. Dari waktu ke waktu bahan bakar dari minyak bumi dan batu bara
semakin sulit diperoleh. Padahal konsumsinya terus meningkat seiring
pertambahan jumlah penduduk dan teknologi. Akibatnya terjadi lonjakan
harga bahan bakar minyak bumi. Bahkan harga minyak bumi mentah pernah
mencapai USD 100 per barel. Realitas seperti yang menginspirasi kami
sebagai akademisi untuk membuat alternatif solusi. Menciptakan bahan
bakar dengan bahan baku nonminyak. Karena bagaimana pun penemuan
seperti ini akan bermanfaat bagi orang banyak. Kenyataan lain juga
membuktikan penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) menyisakan emisi gas
yang sangat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Dan tentang ini
juga menjadi pembahasan serius di KTT perubahan iklim di Bali
beberapa waktu lalu.
Sebagai akademisi yang memiliki tanggungjawab sosial kepada
masyarakat, kami berupaya untuk melakukan eksplorasi terhadap sumber
bahan bakar baru. Dan terciptalah bahan bakar berbahan baku dari air.

Kenapa air bisa menjadi bahan baku bahan bakar?
Sebelumnya kami terlebih dahulu melakukan kajian ilmiah terhadap air.
Secara struktur molekuler air terdiri dari hidrogen dan oksigen.
Hidrogen tidaknya hanya memiliki sifat menyala (api) tetapi juga
meledak. Sedangkan oksigen secara kimiawi memiliki peran sebagai
reaktor pembakaran. Tanpa ada oksigen tidak mungkin ada api. Untuk
itu bisa disimpulkan secara hakekat air adalah api. Ini sebenarnya
hasil kajian ilmiah kami yang menjadi landasan penemuan bahan bakar
berbahan baku dari air. Banyugeni ini sudah memalui proses kajian
ilmiah yang mendalam.

Jenis air apa saja yang bisa dimanfaatkans ebagai bahan baku bahan
bakar?
Air laut juga bisa dibuat sebagai hydrofuel. Hanya saja perlu
dilakukan proses tertentu agar air laut menjadi tawar. Prinsipnya
yang dipakai adalah air tawar. Kalau air tanah bisa juga sih. Tetapi
terkadang ada kekhawatiran bisa mengganggu hasil penelitian.

Apa ada campuran reagen tertentu agar air bisa menjadi minyak?
Tentu ada campurannya. Bukan hanya air saja. Tetapi saya tidak bisa
matur untuk soal ini. Prinsipnya ada beberapa perlakuan agar air bisa
memiliki sifat seperti minyak. Memberikan bahan lain agar air bisa
menyala seperti minyak. Agar air bisa menjadi minyak maka harus
diperlakukan seperi keadaan minyak. Untuk menghasilkan hydrofuel
digunakan teknologi mekanotermal elektrokemis. Yakni mencakup empat
macam proses yakni mekanik (gerak), thermal (panas), listrik, dan
kimiawi.
Perpaduan keempat proses dengan bahan baku air yang sangat natural
akan menghasilkan beberapa produk bahan bakar minyak yang ramah
lingkungan dan tidak menimbulkan polusi udara. Hydrofuel Banyugeni
memiliki varian produk berupa Hydro kerosene (setara minyak tanah),
Hydro diesel (setara solar), Hydro premium (setara bensin), dan Hydro
avtur (setara bahan bakar jet). Ke depan akan dikembangkan pula
varian produk lain yang mempunyai keunggulan lebih dari varian yang
ada saat ini.

Apa bedanya hydrofuel Banyugeni dengan bahan bakar dari fosil?
O sangat berbeda. Kandungan unsure dan sifat bahan bakar minyak yang
sudah diolah pada Banyugeni sangat memungkinkan untuk dipergunakan
pada mesin tanpa mengubah atau memodifikasi komponen. Hasil ujicoba
menunjukkan Hydro kerosene dapat langsung digunakan untuk menyalakan
kompor minyak tanah, lampu minyak atau petromaks. Hydrodiesel dapat
langsung dipergunakan pada mesin diesel atau mobil dengan bahan bakar
solar, dan Hydropremium dapat langsung diogunakan pada mobil atau
sepeda motor. Produk ini sudah diujicobakan di PT CoreLab Indonesia,
sebuah laboratorium internasional yang independen.
Hasilnya secara menyakinkan menunjukkan bahwa keempat varian
Banyugeni telah memenuhi standar dirjen migas. Pada saat launching,
Rektor UMY Khoiruddin Bashori dan Bupati Bantul Idham Samawi telah
membuktikan Hydrofuel Banyugeni bisa menjalankan mesin motor dan
diesel secara langsung.

Apa kelebihannya dibandingkan bahan bakar minyak?
Hasil pengujian menunjukkan Hydropremium sangat tidak korosif atau
tidak menyebabkan karat. Karena skala copper strip corrosion 1a.
Banyugeni juga terbukti tidak meninggalkan residu karena hanya
berkisar 0,5 persen volume dari maksimal 2,0 persen volume yang
diizinkan.
Selain itu yang lebih penting bagi lingkungan, Hydrofuel sangat
rendah mengandung bahan pencemar berupa emisi. Kandungan sulfur hanya
0,03 % wt dari maksimal 0,05 % wt yang diizinkan. Kandungan timbal
(Pb) hampir nol dari angka maksimal 0,013 yang diizinkan. Pada
pengujian terhadap pesawat aeromedeling, bahan bakar ini ternyata
cukup bagus dan memberikan rpm kurang dari 16.000.

Sudahkan dujicobakan pada pesawat?
Tentu. Bahkan untuk Hydroavtur juga tidak bersifat korosif dan
beremisi rendah.
Total sulfur hanya 10 persen dari maksimal yang dipersyaratkan.
Hydroavtur juga tidak mudah membeku (freezing point kurang dari 45
derajat celcius). Dari pengujian terhadap pesawat aeromodeling bahan
bakar ini dapat digolongkan sebagai bahan bakar jet. Untuk penggunaan
sebagai jet fuel, Hydroavtur sangat istimewa karena bersifat dingin.
Sebagai Hydrokerosene, Hydrofuel tidak meninggalkan jelaga yang
berlebihan pada lampu petromaks.

Berapa lama waktu untuk menghasilkan Banyugeni?
Kami sudah melakukan penelitian ini cukup lama. Yakni sejak tahun
2003. kami berlima tanpa patah semangat terus bekerja di
laboratorium. Dan ke depan kami juga akan berusaha menghasilkan
penemuan lain.

Dari segi biaya produksi lebih murah mana antara bahan bakar dari air
dan fosil?
Kami belum mengetahui secara pasti. Kami belum pernah melakukan
komparasi.
Tetapi kalau diproduksi secara massal jauh akan lebih murah. Terutama
untuk kalangan industri bahan bakar dari air ini akans angat membantu.

Apakah sudah ada pengusaha yang melirik penemuan ini?
Belum ada. Karena penelitian ini baru skala laboratoirum. Perlu ada
penelitian lanjutan agar Hydrofuel Banyugeni ini bisa dimanfaatkan
secara massal. Tetapi kami senang karena pemda Bantul sangat
merespons hasil penelitian ini. Tentunya, karena jika ini
dikembangkan akan sangat bermanfaat bagi masyarakat.

Kalau Lumpur Lapindo apakah bisa dijadikan sebagai bahan baku?
Oh iya Lumpi Lapindo sangat bisa dijadikan sebagai bahan baku bahan
bakar.
Karena sifatnya yang mendekati sifat minyak. Sayang, pemerintah tidak
merespons hal ini. Jika direspons, tentu akan sangat membantu
masyarakat. Baik korban maupun masyarakat lain.

Apa yang akan dilakukan ke depan?
Kami menginginkan penelitian akan dikembangkan tidak saja pada level
laboratorium namun juga level industri. Sehingga mampu memenuhi
kebutuhan energi di sektor transportasi, industri dan rumah tangga
dengan harga yang murah. Implikasi pengembangan produk ini sangat
luas. Seperti pengurangan beban beaya produksi semua sektor dan
secara langsung akan menghemat anggaran negara untuk subsidi BBM.
Semoga pemerintah akah merespons penelitian ini.***

8 Responses so far »

  1. 1

    Leopold said,

    March 5, 2008 @ 3:53 am

    Selamat utk kawan2 peneliti Univ Muhammadiyah Ygy. Kiranya hasil karya ini bisa segera disosialisasikan ke masyarakat, mengingat bhw negara kita sdh memasuki masa krisis energi.
    BTW, mungkin kawan2 peneliti bisa mencoba menjalin kerjasama dg Bp Yohanes di Palu, yg juga telah menciptakan motor bebek bertenaga air th 2007 lalu. Dengan sinergi ini semoga masyarakat kita makin bisa melepaskan ketergantungan thd PLN

    Salam sukses!!

  2. 2

    Syd said,

    March 5, 2008 @ 4:54 am

    Setuju rekan Leopold, semoga dalam waktu dekat teknologi ini dapat dipublikasikan ke masyarakat.
    btw bisa minta info mengenai motor bebek bertenaga air hasil karya Bp Yohanes di Palu ?? saya belum dapat informasinya nih… trims.

  3. 3

    Nur Wakhid said,

    March 19, 2008 @ 12:54 am

    Two tumbs up untuk rekan di UMY, dan Pak Idham, kulo njih wargo mBantul kok Pak …,

    Masukan saya sbb : sebaiknya rekan peneliti lebih menjelaskan mekanisme produksi banyugeni ini, dgn ilustrasi, dan juga mempublish property banyugeni. Sehingga masyarakat dan pemerintah dan juga pihak swasta (pemodal) akan lebih mudah memahami, dan siapa tahu ada yg berminat mengembangkan.

    Karena walaupun secara skala lab sudah berhasil, apakah bila diproduksi secara massal cukup ekonomis? Seperti contoh gampangnya solar cell, yg walaupun sudah diproduksi massal ternyata masih belum ekonomis juga, atau wind power yang sampai sekarang masih belum dikembangkan di indonesia.

    jadi untuk saat ini yg penting menurut saya adl, sosialisasikan secara gamblang prosesnya dan segera dipatenkan. Semoga ALLOH
    memberkahi kita semua, amin.

    O ya, sedikit komentar ttg ketergantungan thd PLN, saya kira kita tdk perlu mengatakan demikian, krn sesungguhnya PLN itu milik rakyat Indonesia, jadi memang PLN dibangun itu salah satunya untuk melayani kebutuhan masyarakat. Kalau bicara mengenai energi primer, saya kira masyarakat dan PLN berada pada posisi yg sama, yaitu sbg konsumen energy primer.

  4. 4

    Mubtadi Jasim Iman said,

    March 19, 2008 @ 1:08 am

    Ass Wr Wb. Alhamdulillah dengan penelitian UMY ini qita makin tergugah lagi untuk membaca Al-Qur’an dan berusaha mengerti dan mengaplikasikan dikehidupan sehari-hari. Wss Wr Wb.

  5. 5

    Djunaedi tarmin said,

    March 26, 2008 @ 5:22 am

    Ass.Wr.Wb.
    Apa sih hubungan nya dengan JOKO SUPRAPTO penemu BLUE ENERJI,
    koq mirip-mirip gitu lho namanya ?

  6. 6

    ojo dumeh said,

    April 28, 2008 @ 4:51 pm

    apanya yang baru, karena penemuan hidrogen fuel dijermsn sudah puluhan tahun lalu.kita tahu karbit? itu salah satu bahan kimia yang bisa mengubah air jadi bahan bakar(H2). di amerika Sekarang sudah digunakan bahan bakar hidrogen cair. notebook thosiba malah sudah memakai batere dari reaksi hidrogen + oksigen.
    saya kok masih ragu bahwa energi yang dihasilkan “banyugeni” lebih besar dari energi yang diperlukan untuk membuatnya.
    mungkin lebih tepat banyugeni termasuk dalam kategori pesawat (alat/bahan) penyalur atau penyimpan energi. yang tentunya tingkat efisiensinya pasti kurang dari 100%.
    kita perlu ingat bahwa pada masa leonardo davinci ada istilah swacala abadi (energi abadi). yang ternyata itu tidak ada, dan telah mengorbankan beratus-ratus ilmuwan jenius, dengan penilitian2 mereka yang tanpa hasil.
    namun begitu apresiasi bagus saya berikan untuk penemu banyugeni,syukur-syukur harga produknya dibawah BBM.

  7. 7

    WIDHI HARTANTO said,

    May 9, 2008 @ 4:18 am

    ya ya ya … saya sepakat dengan sodara “ojo dumeh”, dilihat dari prosesnya saja ada 4 tahapan, mekanis, termal, elektrik, dan kimia. Coba dihitung, berapa energi(bbm tentunya) dibutuhkan dan emisi yang dikeluarkan untuk membuat banyugeni. Memang secara hasil telah berhasil diproduksi bahan bakar tersebut, akan tetapi apa ya akhirnya membuat bahan bakar baru dengan bahan bakar lama …??? :-/

    wah wah wah rak yo bisa dikatakan muspro to …

    Kecuali kalo proses produksinya dengan menggunakan natural energy, mikrohydro, geothermal, solar, wind dll, mungkin efisiensinya bisa ditingkatkan, kalo sejauh proses produksi bahan bakar (bio apapun itu) selama masih make, useless bin muspro lah … , mending mending dipublish, jadi biar rakyat cepet dapet solusi …[-(

  8. 8

    Mislam Samasi said,

    May 23, 2008 @ 7:15 am

    Terimakasih kepada Para Peneliti, saya angkat topi dengan anda.
    Teruskan Perjuangan sebagai peneliti dan mudah2an akan segera terealisasi Demi Bangsa dan Negara.

    Khususnya untuk kaum lemah.

    Sekali lagi Terimakasih

Comment RSS · TrackBack URI

Say your words